"Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini."
(Samuel Taylor Colleridge)
"Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain."
(Thomas Hardy)
Suatu ketika ada sebuah pesawat tempur dengan dua orang pilot yang sedang terbang di atas laut tiba-tiba saja mengalami kerusakan mesin. Secara cepat sang pilot berupaya mencari pulau terdekat untuk mendaratkan pesawatnya. Akhirnya dengan susah payah, pesawat tersebut berhasil mendarat di laut, dan kedua pilot terpaksa berenang menyelamatkan diri menuju pulau kecil yang tidak berpenghuni.
Kesalahpahaman yang dulu terasa, mungkin sudah berakhir
Saat ku harus katakan semua yang ku rasa
Saat hati tak kuasa menahan tangis
Saat itulah pemecahan masalah
Shalat dhuha hanya dua rakaat, qiyamullail (tahajud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Shalat lima waktu? Sudah jarang di masjid, memilih ayatnya juga yang pendek-pendek agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan shalat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "kalau tidak terlambat" atau "asal tidak bangun kesiangan". Dengan shalat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?